Di kota Solo dikenal dua kampung kemeja batik pria kombinasi polos yang besar, Kampung Laweyan dan Kampung Kauman. Keduanya memiliki keunikan berdasarkan sejarah, dan Attack Batik Cleaner sangat beruntung bisa menjumpai para Mpu dari kedua kampung itu. Bp. Saud Efendi dari Kampung Laweyan dan Bp. Gunawan Setiawan dari Kampung Kauman. Keduanya merupakan relasi Edward Hutabarat, yang telah bertahun-tahun bekerja sama dengan mereka.

Kampung Laweyan diperkenalkan oleh Bp Saud Effendi sebagai kampung yang berkembang karena industri kemeja batik pria modern, dan dimotori para saudagar Batik pribumi yang dikenal dengan sebutan Gal Gendhu. Masa kejayaan para Gal Gendhu itu terlihat jelas dari arsitektur bangunan rumah mereka yang luas, megah dan berbenteng tinggi. Para Gal Gendhu dari Laweyan inilah yang merupakan cikal bakal sebuah organisasi perdagangan yang didirikan pada tahun 1912 dan dikenal sebagai Syarekat Dagang Islam.

“Kami membuat Batik tulis dengan pakem-pakem tradisional khas Solo, Batik cap dengan kemeja batik modifikasi warna dan teknik smocked (kerut) untuk mendapatkan kesan kontemporer yang lebih segar, dan jenis Batik painting (lukisan Batik) yang merupakan penyaluran jiwa seni saya,” ungkap Bp. Saud alumnus STISI yang juga pernah berkecimpung di jagad perfilman Indonesia.

Selanjutnya Bp Saud menyatakan bahwa di Laweyan perajin Batik memiliki organisasi yang dapat membantu pengadaan materi Batik. Sekalipun demikian, beliau mengakui karena tingginya kebutuhan pasar, seringkali ada saja yang kurang. “Bahan pewarna alam dan pembersih Batik mulai agak sulit dicari. Kehadiran Attack Batik Cleaner yang ingridients-nya terbuat dari bahan alami, tentu merupakan kabar baik bagi kami yang bergerak di industri Batik,” ujar Pak Saud dengan nada lega.

Sedikit berbeda dibandingkan kisah Laweyan, Kampung Kauman memiliki hubungan yang dekat dengan Keraton Solo. Perajin di Kampung Kauman secara khusus membuat batik pria untuk lamaran untuk kebutuhan Keraton Kasunanan Surakarta. “Jarik atau kain yang digunakan oleh raja dan kaum bangsawan Keraton adalah bagian dari simbol dan citra mereka. Tentu saja pembuatannya hanya diserahkan pada orang-orang kepercayaan yang pada saat itu menetap di wilayah Kauman ini,” demikian ungkap Bp Gunawan Setiawan.

Gunawan kemudian mengatakan bahwa hal penting yang harusnya diperhatikan pemilik kain Batik adalah perawatannya. “Malam yang digunakan untuk membatik itu mengandung campuran lemak hewani. Hal inilah yang menyebabkan pemeliharaan kain Batik, yaitu proses pencucian harus dilakukan dengan baik. Batik yang disimpan di dalam lemari, harus benar-benar bersih dari malam, karena jika tidak akan mengundang ngengat. Kain yang belum bersih dari malam, adalah makanan mewah bagi ngengat. Saya telah mencoba Attack Batik Cleaner beberapa saat lalu, dan hasilnya memang bersih. Bisa mengangkat malam Batik yang masih tersisa,” demikian penjelasan Pak Gunawan yang hingga kini masih melakukan berbagai eksperimen yang berhubungan dengan malam Batik.

Di luar kedua wilayah tersebut, masih ada seorang maestro Batik Solo yang dikunjungi Attack Batik Cleaner, Ibu Siti Sendari. Saat ini beliau selain dikenal sebagai penghasil batik pria untuk pernikahan bermotif pakem untuk digunakan di acara-acara tradisional seperti pernikahan, juga karena sentuhan warna pada motif-motif pakem Batik Solo. Sedikit berbeda dibandingkan warna non soga yang dilakukan dua maestro di Laweyan dan Kauman, warna racikan Ibu Sendari memberikan sensasi feminin di atas warna sogan yang solid. Lila, ungu muda, pink, oranye dan biru seakan “tersenyum” genit menarik perhatian.

“Saya memperhatikan nenek bekerja dulu saat masih kecil. Saya tertarik pada proses beliau membatik tulis, mencampurkan warna. Hal ini kemudian saya tekuni, dan dalam perjalanan pekerjaan saya terdorong untuk selalu mencoba hal baru, agar Batik bisa tampil hip, nge-trend. Setelah saya trial and error, akhirnya saya menemukan. Tidak mengubah motif batik pria untuk kondangan, melainkan memadukan satu motif dengan motif lain, dan memberikan sentuhan warna khas saya sebagai perempuan,” ungkap Ibu Sendari yang saat ini boleh berlega hati, bahwa di antara ke-12 cucunya ada seorang Mutia (12 tahun) yang sangat tertarik dan sehari-hari selalu bersenang hati membantunya bekerja di workshop mencoba berbagai campuran warna.

Garis merah yang sama terlihat pada ketiga maestro itu. Mereka tidak sekadar bekerja sebagai produsen Batik, mendapatkan keberuntungan finansial dari maraknya Batik sebagai salah satu kekayaan bangsa yang diakui secara internasional. Sebaliknya mereka memiliki misi pribadi, mengembangkan Batik sebagai warisan yang perlu dipertahankan eksistensinya sesuai jaman.

UserForm edit

FirstName Batik
LastName Slimfit
OrganisationName
OrganisationURL
Profession
Country
State
Address
Location
Telephone
VoIP
InstantMessaging (IM)
Email
HomePage http://www.batikslimfit.net
Comment
Topic revision: r2 - 03 Jun 2017, BatikSlimfit
This site is powered by FoswikiCopyright © by the contributing authors. All material on this collaboration platform is the property of the contributing authors.
Ideas, requests, problems regarding Foswiki? Send feedback